Tahun 2008: Tahun Musik Rock and Roll

Saya baru selesai membaca majalah Rolling Stone edisi terbaru (issue 1068/1069, December 2008/January 2009). Saya sudah sering tulis bahwa saya mengagumi majalah yang satu ini, terutama karena kemampuannya yang hebat dalam menggabungkan entertainment (khususnya musik dan film) dan social/political awareness. Saya juga baru membeli commemorative edition majalah RS ini yang berisi khusus tulisan-tulisan panjang wartawan RS tentang Barack Obama (tentang kampanyenya, pidato-pidatonya yang menggetarkan, dan kisah-kisah lain seputar Barack Obama). Dua majalah lain yang menerbitkan commemorative edition tentang Barack Obama adalah Time dan Newsweek.

Saya membeli edisi terbaru RS ini karena saya ingin tahu pendapat RS tentang album-album rock terbaik yang di rilis tahun 2008.Ternyata, setelah saya baca, yang pertama menarik perhatian saya adalah sebuah statement sangat pendek yang saya temukan dalam sebuah artikel di edisi ini: “Can’t Stop the Rock!”.

Ya, saya setuju dengan RS bahwa tahun 2008 adalah tahun yang menggairahkan untuk musik rock. Beberapa band dedengkot genre musik rock merilis album baru sepanjang tahun 2008. Juga ada band-band baru yang menurut banyak majalah dan kritikus musik akan menjadi besar dan mewarnai musik rock untuk beberapa waktu ke depan, yang saya tulis dibagian akhir notes ini.

Metallica, grup metal terbesar, merilis album baru di tahun 2008 ini, Death Magnetic, yang langsung melesat menjadi album nomor satu. Waktu itu saya ikut menanti dirilisnya album ini dan memburu piringan hitamnya di hari album itu dirilis.

Kemudian ada Coldplay dengan albumnya Viva la Vida or Death and All His Friends yang megah. Album yang diproduseri musisi terkenal Brian Eno ini juga laku keras. Dan lagu Viva la Vida bertahan beberapa lamanya di puncak tangga lagu-lagu.

Lalu AC/DC, grup lawas, meluncurkan album baru Black Ice yang juga menjadi best seller. AC/DC mungkin merepresentasikan statement “Can’t Stop the Rock!” tadi. Masih konsisten dengan musik khas dan riff-riff nya, AC/DC seolah tidak perduli dengan kehadiran grup-grup baru, dan tetap bertahan dengan style musiknya yang lama.

Bahkan Angus Young sang gitaris tetap memakai kostum panggungnya berupa seragam anak sekolah, walaupun umurnya sudah hampir kepala 6…:-). Saya belum punya piringan hitam Black Ice, kecuali beberapa track mp3 dari album ini.

Terakhir Guns’ N Roses (baca: Axl Rose) merilis album Chinese Democracy yang tertunda bertahun-tahun lamanya. Saya belum membeli album ini, dan saya tidak tahu apakah diluncurkan juga dalam format piringan hitam atau tidak. GNR tanpa Slash sudah bukan GNR lagi, menurut saya.

Tahun 2008 juga diramaikan tur reuni dari grup-grup rock besar. The Police menyelesaikan rangkaian reunion tour nya tahun 2008 ini. Juga ada Genesis.

All in all, tahun 2008 adalah tahun mengasyikan buat orang ‘tua’ seperti saya. Bisa mendengar lagi grup-grup lama yang saya akrabi waktu ‘muda’ dulu.

Hal paling mengesankan buat saya dalam tahun 2008 ini adalah saya merasa beruntung sedang berada di Amerika Serikat di tahun yang buat negeri ini mungkin akan diingat sebagai sebuah tonggak sejarah. Barack Obama yang berkulit hitam terpilih menjadi presiden. Sepanjang tahun 2006, 2007, 2008, saya menyaksikan dari dekat pergumulan politik, yang inspiratif, dari para politisi Amerika yang membuat saya menyimpulkan bahwa Amerika tetap menjadi tempat menoleh ketika kita mengalami kekeringan inspirasi bagi demokrasi.

Saya menyaksikan politik yang cerdas, bernas, penuh dignitas, dengan sisi kemanusiaan mencerahkan sepanjang tahun ini di Amerika. Barack Obama menjadi inspirasi tidak hanya bagi orang Amerika, tapi juga bagi banyak orang lain di dunia. Tahun 2006 ia berkunjung ke Kenya, disambut antusias ribuan orang disana. Tahun 2008 ia berpidato di Berlin, dimana 200 ribu orang memadati lapangan tempatnya berpidato dan mendengarkan pesan-pesannya, seolah Barack Obama adalah pemimpin mereka juga.

Matt Taibi, kolumnis favorit saya yang menulis untuk majalah Rolling Stone, setahun yang lalu pernah menulis artikel berjudul Obama’s Hour dalam RS edisi 1042/1043 27 December 2007. Ia menulis: “all love stories are beautiful at the beginning, and what we’re witnessing now is the beginning of a new one: America and Barack Obama”. Ya, Amerika dan juga dunia sedang jatuh cinta pada Barack Obama. Matt Taibi benar.

Yang juga jatuh cinta pada Barack Obama adalah musisi-musisi Amerika. Sepanjang 2008, banyak musisi Amerika ikut berkampanye untuk Obama. Mereka melibatkan diri dengan kampanye “Rock the Vote”, untuk membantu terpilihnya Obama. Motornya antara lain adalah Bruce Springsteen, yang begitu dipuja di Amerika. Juga ada Arcade Fire, band baru yang digemari banyak anak muda Amerika. Bob Dylan, musisi sangat berpengaruh yang sama sekali belum pernah meng-endorse seorang calon presiden pun sejak awal karirnya, tahun ini secara terbuka menyatakan endorsement nya untuk Barack Obama.

Dalam salah satu edisinya di tahun 2008, RS juga menampilkan wawancara panjang dengan Barack Obama, yang mendapat surprise question: “what’s in your iPod?”. Saya suka bagian itu dari wawancara tersebut, karena ia menampilkan sisi human dari Obama, yang waktu itu masih kandidat presiden namun sudah menjadi seperti selebriti.

Isi iPod-nya memperlihatkan bahwa ia penyuka musik serius. Jawabannya fasih, ia menyebut album-album penting dari Stevie Wonder seperti Songs in the Key of Life, juga album kelompok Grateful Dead, Bruce Springsteen, dan beberapa album musik rock penting dan berpengaruh lainnya yang di rilis di masa ia remaja menjelang dewasa. Semua album yang disebut Obama dalam wawancara itu, masuk dalam list 500 Greatest Albums of All Time (yang dibuat majalah RS di tahun 2003 itu).

Tidak lengkap menyebut tahun 2008 sebagai tahun rock and roll bila tidak menyebut band-band baru yang menjanjikan dan disambut dengan penuh gairah oleh para kritikus, wartawan, dan penyuka musik genre ini.
Seperti biasa banyak media musik membuat list album yang dianggap terbaik sepanjang tahun 2008. Selain Rolling Stone, saya biasa menengok sebuah media musik online yang berpengaruh di Amerika yakni Pitchfork.

vweekendAda dua band baru yang secara konsisten dianggap sebagai band baru menjanjikan, dan albumnya yang dimasukan dalam list album terbaik 2008, baik oleh RS maupun Pitchfork. Kebetulan saya juga mempunyai piringan hitam album dari kedua band ini. Pertama adalah grup Vampire Weekend yang diawaki oleh musisi muda, yang juga mahasiswa di kampus terkenal Columbia University. Album debutnya berjudul sama, Vampire Weekend. Satu lagi adalah grup Fleet Foxes, dengan album bertitle sama dengan nama grupnya. Keduanya adalah band indie yang sukses menggapai audiens lebih luas.

fleetfoxescoverFleet Foxes menampilkan musik tenang, folksy, dan menghanyutkan. Dalam musik Fleet Foxes kita bisa ‘mendengar’ the Beach Boys dengan harmoninya yang legendaris, juga musik alternatif ala grup the Shins yang mengasyikkan itu. Tidak mengherankan, karena album Fleet Foxes diproduseri oleh Phil Alk yang juga memproduseri the Shins. Ketika album Fleet Foxes keluar beberapa bulan lalu, Pitchfork bahkan memberi rating 9.0 (dari skala 10), lebih tinggi dari rating yang mereka berikan untuk Vampire Weekend yang keluar awal tahun 2008 (rating 8.8). Pitchfork yang berbasis di Chicago adalah media indie online yang besar dan berpengaruh, dan pelit memberi nilai bagus dalam review-review nya. Album Viva la Vida milik Coldplay misalnya, hanya diberi rating sekitar 6.

sternmarnieAda satu lagi album band baru, yang dianggap sebagai salah satu album terbaik tahun 2008 oleh Pitchfork (tetapi tidak ada dalam list album terbaik 2008 majalah Rolling Stone). Yaitu album karya seorang gitaris wanita yang sedang digemari di pentas musik rock. Albumnya berjudul panjang, namun diringkas sebagai “This is It”, karya gitaris Marnie Stern.

Kalau Anda menyukai Van Halen seperti saya, mungkin akan menyukai Marnie Stern. Lagu-lagu karya Marnie Stern dipenuhi dengan teknik two-handed tapping yang dulu dipelopori antara lain oleh Eddie Van Halen. Yang lebih menyegarkan adalah Marnie Stern dibantu oleh dewa drum musik indie Amerika yang permainannya sangat dahsyat, yaitu Zach Hill. Jadilah ia sebuah album berisi interaksi indah antara gitar dan drum yang cepat dan ‘berisik’.

Saya sangat menyukai grup My Bloody Valentine dengan albumnya Loveless yang loud dan noisy, karena layer-layer gitarnya. Musik Marnie Stern juga loud dan noisy, namun ia menggabungkan gitar dengan drum. Selain itu, Marnie Stern secara sadar memasukan hook-hook yang poppish. Marnie Stern juga mengadopsi gaya menyanyi Yoko Ono yang khas. Jadilah album ini sebuah album rock yang keras, namun memiliki sentuhan feminin yang unik.

Sama seperti anggota-anggota Vampire Weekend yang mahasiswa Ivy-league, Marnie Stern juga mahasiswa – jurusan jurnalistik, di kampus terkenal New York University.

Setelah membaca Vampire Weekend dan Marnie Stern, saya sepertinya menemukan justifikasi bahwa menghabiskan waktu untuk menikmati musik ditengah-tengah kuliah sepertinya bukan ‘dosa’…hehehe. Kuliah di Amerika cukup memusingkan, tidak heran banyak mahasiswa mencari outlet-outlet pelepas kepenatan dengan caranya masing-masing. Kalau saya, ya di tengah disertasi boleh lah sibuk berburu piringan hitam…:-)
Kapan-kapan saya akan tulis mengenai album Vampire Weekend, Fleet Foxes dan Marnie Stern di blog ini.

Related

Music News 5194430439782469899

Post a Comment

Join Us

Twitter

Facebook

Popular Posts

item