Ketika Musik Bagaikan Air

image


Jakarta - Awal tahun '90-an, saya diantar ibu dan ayah menuju toko kaset Aquarius di kawasan Dago, Bandung. Saya masih duduk di bangku SD dan baru saja mendapat uang dari tante yang baru pulang haji. Aquarius Dago adalah tempat favorit saya, karena saya selalu mengkhayal Aquarius adalah kamar saya sendiri. Sesampai di sana, saya memilih-milih kaset, sampai akhirnya Ibu saya menunjuk sebuah kaset yang ternyata adalah kaset Sepultura album Morbid Vision. Ibu tahu Sepultura karena kakak saya memang mengoleksinya. Karena album itu belum masuk koleksi kakak, tanpa berpikir panjang saya langsung memilih kaset itu. Menuju rumah, ayah penasaran dengan kaset yang saya beli, maka dipasang. Beliau cuma bilang dengan bahasa sunda: “Ha-ha. Musik nu kie mah tukang becak oge bisaeun.” (Musik seperti ini tukang becak juga bisa).

Sesampai di rumah, saya langsung memandangi lagi sampul kaset Sepultura yang saya beli. Artwork yang cukup gore untuk anak SD dan menjadi patokan coolness untuk saya waktu itu. Bau dari bahan kertas sampul khas, kaset diputar di tape dengan volume dahsyat dan saya headbang di depan speaker, font mereka kerap saya tiru di belakang buku pelajaran.

Romantis sekali, bukan? Momen dan sensasi itu saat ini sepertinya hilang ditelan peradaban yang lebih maju dan teknologi yang menggila. Tak pernah terbayangkan betapa kaset/CD bisa menjadi sebuah file di komputer dan ada pengiriman lagu lewat email, ponsel dan berbagai macam fasilitas di Internet. Dalam hitungan menit, sekarang seorang musisi, setelah membereskan recording dan mastering, bisa langsung memperdengarkan lagunya ke dunia dengan mengunggahnya ke Internet. Bagi saya, ini gila, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sampai akhirnya saya, yang dulu secara ekonomi sangat pas-pasan untuk membeli dan mengoleksi CD, menyerah kepada tradisi file sharing.

Tapi untuk rilisan lokal, sebisa mungkin saya selalu membeli fisiknya. Ya, musik-musik yang saya punya sekarang sebagian besar berbentuk file di komputer tanpa ada wujud otentik yang bisa saya nikmati seperti dulu. Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan istilah pembajakan, karena sengotot apapun saya berwacana tentang pembajakan, saya akan sangat mudah diserang balik. Datang dan lihatlah apa yang ada di lemari kamar saya: hampir semua DVD film adalah bajakan, cek juga isi laptop saya, semua adalah MP3 unduhan dan hasil file sharing.

Namun di balik fenomena itu, penyebaran lagu via Internet ternyata memiliki dampak lain yang sangat di luar dugaan. Album Rocket Rockers (RR) Better Season sebanyak 13 lagu menyebar di internet pada tahun 2006. Entah siapa yang menyebarkan, yang jelas kami sedih karena karya itu belum di-mastering dan menyebar sebelum CD-nya rilis ke pasaran. Mungkin ini karma karena saya banyak menyimpan file bajakan. Namun apa hasilnya? Testimonial tentang lagu-lagu RR berhamburan setiap harinya di Friendster, undangan panggung semakin mengalir.

Dan racikan baru dari aransemen kami yang sebagian mulai memakai synthesizer seperti menjadi ketok tular dan lahirlah band-band baru dengan synthesizer yang sama pada tahun itu. Bahkan RR diundang owner Friendster ke acara gathering-nya di Jakarta sebagai salah satu band dengan penggemar terbanyak, bersama RAN dan lain-lain. Fenomena itu cukup gila, terutama saat lagu akustik pertama RR, “Ingin Hilang Ingatan”, menjadi top request di berbagai radio, sampai-sampai kami kewalahan karena hampir semua music director radio meminta materi lagu itu akibat diminta pendengar setiap hari. Kami sempat kaget dan mulai mengerti cara menembus pasar yang lebih dewasa, yaitu membuat lagu yang “kalem”, ha-ha.

Kembali ke topik, yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah sebagai musisi kita harus menyerah pada distribusi via Internet dan tidak merilis CD/fisik untuk selamanya?” Saya rasa tidak perlu menyerah. Kita masih bisa bersikap seperti 20 tahun lalu, tetap merilis album dalam bentuk fisik dan me-nyiasati penjualannya semenarik mungkin. Menyelipkan bonus sticker atau bundling dengan kaos ternyata cukup ampuh. Itu yang RR lakukan saat menghadapi pembajakan di tahun 2006 dan sudah harus merilis lagu-lagu yang sudah menyebar di tahun 2008. Alhasil, pembeli setia tetap ada karena Alhamdullilah kami memiliki RocketRockFriends yang loyal di setiap kota.

Berbahagialah band-band sekarang yang memiliki segala fasilitas yang sangat murah meriah, praktis dan efisien. Pengaruh musik, tinggal buka Wikipedia atau Google. Promosi tinggal buat MySpace, Purevolume, atau Twitter. Pengaruh gaya panggung, buka YouTube, beres. Band zaman dulu, untuk tahu band-band yang aneh-aneh harus bergaul dengan teman-teman kaya yang punya majalah musik luar atau majalah skateboard, karena di situlah banyak informasi band-band luar biasa. Band yang kekurangan pengaruh biasanya akan membuat gaya sendiri, yang mungkin akhirnya menjadi ciri khas mereka.

Dari pengalaman-pengalaman itu saya melihat musik saat ini sudah seperti air. Ada yang gratis seperti sungai, ada yang bayar seperti ledeng dan ada juga yang dijual dalam bentuk kemasan. Dan saya yakin semua ada pasarnya. Jadi tidak usah takut untuk merilis fisik (bagi yang senang dengan sesuatu yang otentik) dan tidak diharamkan juga untuk yang mau menggratiskan karyanya di Internet. Ya, hari ini perbedaan band indie dan major dari segi distribusi lagu sangat tipis. Tapi dalam tulisan ini, saya sebenarnya ingin- berbagi tentang betapa mengasyikannya memiliki rilisan fisik, karena kita bisa memahami attitude, informasi dan soul sang musisi melalui artwork sampul, lirik, ucapan terima kasih, produser dan beberapa kutipan yang biasanya tersurat di sampul.

Sensasi itu saya rasakan ketika melihat rilisan-rilisan lokal yang sudah langka seperti Puppen, Full Of Hate, Pure Saturday, Guilty Parties, Stepforward, Blind To See, Jingga, Protonema sampai Kahitna. Mari kita apresiasi rilisan fisik (terutama lokal) dengan membelinya. Karena setiap rilisan fisik yang kamu punya, pasti ada cerita seru di baliknya.

sumber

Related

Music News 5163991112484788115

Post a Comment

Join Us

Twitter

Facebook

Popular Posts

item